Pasif Income

Sabtu, 02 Oktober 2010

Pengalaman Berubah dari Pemalu jadi Percaya Diri

Salam Sehat dan Sukses

Saya dulu adalah orang yang minder dan rasanya paling minder se dunia. Hal perasaan minder ini saya rasakan saat Sekolah Menengah Pertama, dimana SMP saya termasuk salah satu favorit di kota Semarang, yang notabene mayoritas anak-anak pejabat atau pengusaha kaya banyak sekolah disitu. Apa yang menjadikan saya minder? Pertama, saya masuk di kelas yang kategori anak-anak titipan, karena NEM sebenarnya kurang memenuhi syarat, kedua, teman-teman banyak yang diantar pakai mobil, dan banyak yang bawa motor sendiri, ketiga, saya jarang sekali kumpul di kantin karena uang saku saya hanya cukup buat naik angkot, karena dari rumah sudah diberi bekal makan, ke empat, saya merasa tidak mempunyai suatu keunggulan, misal main gitar, nyanyi, main basket ataupun sepakbola.

Setiap kali ada acara kumpul-kumpul, saya selalu tidak mau datang, karena saya tidak bisa tampil modis seperti teman-teman yang lain. Dan saya selalu berteman dengan teman yang sama-sama pemalu, akibatnya rasa kurang percaya diri saya semakin bertambah. Padahal kalau di kampung saya termasuk anak yang pandai bergaul dan punya banyak teman. Sifat minder atau kurang percaya diri ini terbawa sampai saya sekolah SMA, kuliah, bahkan saat sudah bekerja dan mempunyai keluarga. Yang menyebabkan saya justru kurang disukai oleh teman-teman. Bahkan saat makan bersama keluarga di warung makan pun, istri saya yang selalu pesan menu makanan dan minuman. Sangat memalukan sekali. 

Rasa percaya diri saya mulai muncul saat mulai membuka bisnis pertama bersama istri, karena usaha yang saya buka pertama adalah berdagang dan mau tidak mau harus berhubungan dengan banyak orang agar usaha saya mendapatkan banyak pelanggan.  Sedikit demi sedikit saya mulai belajar mengenal atau memahami tentang jenis-jenis barang yang saya jual, agar bisa menjawab pertanyaan pelanggan dengan baik.  Saya juga mulai memberanikan diri untuk menatap lawan bicara dan berani mengambil resiko dimarahi pelanggan jika ada keluhan tentang kualitas barang yang saya jual. 

Cara belajar saya untuk menumbuhkan rasa percaya diri cukup sederhana, yaitu saya sering melihat acara-acara humor di televisi, bagaimana seorang pelawak yang (maaf) wajahnya lebih jelek dari saya berani tampil di depan banyak orang, kemudian saya sering melihat MC dalam acara-acara, baik di televisi maupun di acara-acara off air. Dari situ saya lantas berpikir, kalau orang lain bisa seperti itu, kenapa saya tidak? 

Jawabannya ternyata ada dalam diri, saya mulai sering di depan cermin, bicara sendiri, senyum, tertawa atau apa saja seolah-olah saya sedang menghadapi orang lain, atau banyak orang. Saya juga mulai meyakinkan diri bahwa saya adalah orang yang tampan, rapi, pandai dan berpendidikan, namun bukan sombong loh...

Di setiap kesempatan ada acara yang menghadirkan banyak orang,  saya selalu hadir, dan mencoba berinteraksi dengan orang-orang yang belum saya kenal. Alhasil dalam jangka yang singkat rasa percaya diri saya mulai tumbuh dan berkembang. Kemampuan berhubungan dengan orang lainpun selalu saya asah, dengan mencoba membantu memberi masukan pada orang lain yang mempunyai masalah ketidakpercayaan pada diri. Saya mulai bergaul dengan orang-orang yang saya nilai rasa percaya dirinya tinggi, seperti orang yang berprofesi sebagai MC, marketing, motivator dan lain-lain.

Dulu saya juga tidak pernah mau tampil sebagai seorang pemimpin atau ketua dalam suatu kelompok, sekarang justru selalu mengajukan diri jadi pemimpin. Pokoknya dalam hati saya selalu tekankan, bahwa saya tidak boleh takut salah, berani angkat bicara dan memberi masukan yang berguna selama tidak menyinggung perasaan orang lain.

Keinginan saya sebagai seorang motivator dan penulis sangat kuat, itu yang mendorong saya untuk percaya diri. Tanpa rasa percaya diri, saya tidak akan bisa menuangkan pikiran saya ke dalam tulisan, dan tidak berani berdiri di depan banyak orang. 
Suatu pesan berguna saya dapatkan dari teman, agar saya selalu banyak membaca dan mendengar. Dari situ sedikit demi sedikit pengetahuan saya bertambah. Dengan bertambah pengetahuan, bertambah pula rasa percaya diri, karena saat bicara dengan orang lain dengan bahasan yang berbeda bisa nyambung.

Seperti menulis dalam blogger ini, walau blogger saya tampilannya menurut orang lain belum bagus, saya tetap saja menulis, karena saya punya keyakinan yang kuat, bahwa menurut saya, blogger saya tampilannya sudah bagus ( tidak ada kecap yang nomer dua kan?)..
Bahkan saya buat dua blogger lain dengan tema yang berbeda. Agar saya terlatih menulis beberapa tema yang berlainan.

Jadi bagi Anda yang secara tidak sengaja membaca tulisan saya, dan kebetulan punya masalah dengan rasa percaya diri, segera munculkan rasa percaya diri Anda, sudah banyak artikel di internet yang membahas masalah percaya diri, jadi lebih mudah belajarnya. 

Hindari Aura Negatif dengan Mengendalikan Emosi

Pengendalian emosi sangat penting untuk mencapai keharmonisan hidup, seringkali dalam kehidupan sehari-hari kita terpancing atau kadang dipancing oleh lingkungan baik itu secara sengaja ataupun tidak disengaja yang menimbulkan rasa emosi dalam diri muncul, terutama emosi negatif.
Saya juga sering mengalami hal itu, dan dulu saya selalu terpancing dan terbawa emosi.

Sekarang saya mulai belajar untuk mengendalikan emosi dengan belajar memunculkan potensi yang ada di dalam diri, yaitu potensi kesuksesan. Semakin kita bisa merasakan bahwa kita adalah orang yang sukses, maka kita akan semakin bisa mengendalikan emosi yang negatif.
Kenapa bisa seperti itu? Ya....karena seperti apa yang dikatakan Jennie S Bev dalam bukunya yang berjudul Mindset Sukses : Mempercepat Kebebasan Finansial, bahwa orang sukses adalah orang yang tidak mempunyai rasa iri, rasa dengki dan rasa bersaing dengan orang lain. Bahkan lebih senang mendorong orang untuk bangkit menuju kesuksesan.

Dampak dari pada pengendalian emosi negatif ini sangat luas, termasuk dalam kehidupan berumah tangga. Sering pertengkaran dalam rumah tangga meledak hanya akibat dari hal-hal yang sepele. Jika emosi tidak stabil, maka pertengkaran akan semakin menjadi. Cara mengeluarkan potensi kesuksesan versi saya adalah dengan mengubah pola berpikir kita, dengan perubahan pola pikir ke arah positif, maka perubahan sikap dan tingkah laku kita akan otomatis mengikuti.

Kunci utamanya adalah menahan diri. Saat mengalami sesuatu yang akan memunculkan emosi negatif, segera mengingat dan berpikir, apa manfaatnya jika kita meneruskan aura negatif itu. Jangan mudah terprovokasi oleh orang lain atau hal-hal yang ada di sekitar kita. Berlatihlah setiap hari dengan cara selalu bersyukur tentang apa yang telah kita miliki. Hampir semua buku hasil karya motivator ataupun penulis ulung selalu mencantumkan rasa syukur sebagai salah satu tips untuk sukses.

Saat saya menulis inipun sebenarnya baru saja mengalami sesuatu perkara yang membuat emosi negatif muncul. Dan saya segera mengalihkan pikiran saya kepada hal lain, yaitu menulis ini sambil mendengarkan musik yang menenangkan hati. Memang saya belum melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah itu, karena sekitarnya masih dalam lingkup aura negatif.

Andaikan semua orang bisa menahan emosi dan mengesampingkan egonya, dunia pasti terasa surga. Tak ada permusuhan, persaingan dan pertengkaran yang tidak ada manfaatnya. Seperti berita-berita di televisi, sering menayangkan kerusuhan, saat melihatnya saya hanya merasa iba dengan orang-orang yang terlibat, apa keuntungan yang mereka dapatkan dari kerusuhan? yang kalah dan yang menang sama-sama sakit, rugi, dan akhirnya hanya penyesalan dalam diri.

Munculkan rasa percaya diri yang kuat , dengan iman kepada ajaran Tuhan, juga merupakan salah satu cara meredam emosi yang menjadikan kita terhindar dari aura yang negatif. Tingkatkan terus iman kita, dan percaya pada diri sendiri, jangan pernah mendengarkan ajakan orang lain untuk melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat. Apalagi hal yang menjurus ke arah menyakiti orang lain. Karena penyesalanlah yang akan timbul.

Lebih enak tinggal di rumah berkumpul bersama keluarga, daripada keluar rumah hanya untuk mengikuti ajakan orang lain yang menimbulkan nafsu emosi yang tidak ada manfaatnya, apapun dalihnya. Kegiatan yang lebih mendekatkan diri kepada Tuhan juga bisa dilakukan untuk menghindari aura negatif dan menyembuhkan pikiran yang sedang kacau.